ruangdoa.com – Abu Ad-Darda Al-Anshari, yang memiliki nama asli Uwaimir bin Amir dari suku Khazraj, adalah salah satu figur Sahabat Nabi Muhammad SAW yang kisah hidupnya penuh liku, pelajaran, dan kebijaksanaan mendalam. Sebelum dikenal sebagai ulama dan pakar Al-Qur’an yang zuhud, ia adalah seorang pedagang sukses di Madinah yang bergelimang harta.
Kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah membawa gelombang keimanan, namun menariknya, Abu Ad-Darda termasuk anggota suku Khazraj yang paling akhir memeluk Islam. Fakta ini, sebagaimana dicatat oleh Muhammad Raji Hassan dalam Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi, justru menjadi penekanan betapa luar biasanya dedikasi beliau dalam mengejar ketertinggalan ilmu dan ibadah.
Titik Balik Iman: Berhala yang Hancur
Jauh sebelum Islam menyentuh hatinya, Abu Ad-Darda dikenal sangat tekun merawat berhala pribadinya. Ia bahkan menghiasinya dengan pakaian sutra dan wewangian terbaik, menolak ajakan sahabat karibnya, Abdullah bin Rawahah, untuk beriman kepada Allah SWT.
Namun, sejarah mencatat sebuah peristiwa dramatis yang mengubah segalanya.
Saat Abu Ad-Darda tengah sibuk mengurus dagangan di tokonya, Abdullah bin Rawahah memasuki kediamannya dan diam-diam menghancurkan patung sembahan tersebut hingga berkeping-keping.
Ummu Darda, istri beliau, menyaksikan kehancuran itu dan menangis histeris. Ketika Abu Ad-Darda pulang dan mendapati istrinya memeluk sisa-sisa berhala yang rusak, amarahnya sempat memuncak. Namun, di tengah kemarahan itu, terlintas sebuah perenungan mendalam di benaknya.
Ia menyadari kelemahan fatal dari apa yang selama ini ia puja. Jika patung itu benar memiliki kekuatan ilahi, tentu ia mampu melindungi dirinya sendiri dari kehancuran.
Kesadaran ini mendorongnya untuk segera mencari Abdullah bin Rawahah, meminta dibimbing menghadap Rasulullah SAW untuk mengucapkan syahadat. Setelah keislamannya, beliau dipersaudarakan dengan Salman Al-Farisi, dan bertekad kuat untuk mengejar ketertinggalan, hingga tumbuh menjadi seorang hafiz Al-Qur’an dan pakar agama yang disegani di kalangan Sahabat.
Filosofi Zuhud: Menjaga Hati dari ‘Kekayaan yang Tercecer’
Perubahan terbesar dalam hidup Abu Ad-Darda adalah keputusannya untuk meninggalkan kemewahan dunia dan memilih jalan zuhud (asketisme). Dalam buku Biografi 60 Sahabat Nabi, Muhammad Khalid menggambarkan bagaimana beliau berjuang menjaga hatinya agar tidak diperbudak oleh materi.
Salah satu doa beliau yang terkenal adalah, “Ya Allah, lindungilah aku dari hati yang tercerai-berai.”
Ketika ditanya maksud doa tersebut, beliau menjelaskan bahwa hati yang tercerai-berai adalah hati yang pikirannya terpecah karena memikirkan dan mengurus kekayaan yang tersebar di berbagai tempat, baik kebun, ladang, maupun perniagaan.
Abu Ad-Darda sangat aktif memberikan nasihat tentang bahaya terpesona pada kemewahan dunia. Dalam salah satu suratnya yang ditujukan kepada sahabatnya, beliau memberikan pandangan tajam tentang harta warisan:
“Dunia yang engkau miliki sejatinya hanyalah sekadar yang telah kamu manfaatkan untuk dirimu. Karena itu, utamakanlah harta itu untuk anakmu di mana engkau mengumpulkan harta untuknya agar menjadi warisan baginya.”
Beliau melanjutkan, “Sejatinya, engkau mengumpulkan harta itu untuk salah satu dari dua kemungkinan: (pertama) untuk anak yang saleh yang beramal dengan harta itu untuk menaati Allah, maka ia berbahagia dengan segala kepayahanmu. Dan (kedua) untuk anak durhaka yang mempergunakan harta itu untuk maksiat, maka engkau lebih celaka lagi dengan harta yang telah kamu kumpulkan untuknya itu. Percayakanlah nasib mereka kepada rezeki yang ada pada Allah dan selamatkan dirimu sendiri.”
Menolak Pinangan Istana demi Kesederhanaan
Komitmen Abu Ad-Darda pada prinsip zuhud diuji dalam sebuah keputusan penting menyangkut masa depan putrinya.
Saat itu, Yazid bin Muawiyah—putra Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan—datang melamar putri Abu Ad-Darda. Menariknya, Abu Ad-Darda menolak lamaran tersebut, meskipun tawaran itu menjanjikan kemilau kekuasaan dan kemewahan istana.
Sebaliknya, ia justru memilih menikahkan putrinya dengan seorang pemuda sederhana yang dikenal taat beragama.
Ketika orang-orang terheran-heran, Abu Ad-Darda mengungkapkan kekhawatiran utamanya: bahwa kemewahan dan fasilitas istana justru akan melunturkan nilai spiritual dan ketaatan putrinya.
Beliau menutup nasihatnya dengan analogi yang sangat terkenal: rezeki akan mengejar manusia sekuat kematian mengejar nyawa, bahkan jika seseorang berusaha lari darinya. Keteguhan Abu Ad-Darda dalam mendahulukan nilai agama di atas kekuasaan dunia menjadikannya salah satu panutan terbaik dalam memaknai hidup zuhud.








