Alhamdulillah ‘ala kulli halin wa astaghfurullaha min kulli dzanbin: Arab, Latin, Arti, dan Kapan Dibaca

Doa Writes

Dalam keseharian, ada kalanya kita berada di puncak bahagia, namun tak jarang pula diuji dengan keadaan yang membuat hati berat. Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga lisan dan hati dengan dzikir yang menyeimbangkan rasa: tetap bersyukur ketika lapang, dan segera beristighfar ketika khilaf. Salah satu bacaan yang sering diamalkan adalah:Alhamdulillah ‘ala kulli halin wa astaghfurullaha min kulli dzanbin.Bacaan ini ringkas, mudah dihafal, tetapi maknanya sangat dalam. Berikut penjelasan lengkap mulai dari tulisan Arab, latin, arti, hingga kapan sebaiknya dibaca.

Bacaan Arab, Latin, dan Artinya

Tulisan Arab:

الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَىٰ كُلِّ حَالٍ وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ

Latin:
Alhamdulillāhi ‘alā kulli hālin wa astaghfirullāha min kulli dzanbin.

Artinya:
“Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan, dan aku memohon ampun kepada Allah dari setiap dosa.”

Perhatikan bahwa kalimat ini menggabungkan dua ibadah hati sekaligus: hamd (memuji Allah) dan istighfar (memohon ampun). Inilah sebabnya banyak muslim yang menjadikannya dzikir harian, karena ia cocok dibaca di saat senang maupun saat susah.

Makna yang Terkandung di Dalamnya

1) “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” (Bersyukur atas setiap keadaan)

Kalimat ini mengajarkan kita untuk memuji Allah bukan hanya ketika mendapatkan nikmat yang jelas terlihat, tetapi juga ketika menghadapi keadaan yang kurang kita sukai. Sebab, dalam pandangan iman, setiap keadaan membawa hikmah: ada yang menjadi ujian kesabaran, ada pula yang menjadi pengangkat derajat, dan ada yang menjadi penghapus dosa.

2) “Wa astaghfurullaha min kulli dzanbin” (Memohon ampun dari setiap dosa)

Setelah memuji Allah, kita menutupnya dengan istighfar. Ini adab yang indah: seolah kita berkata, “Ya Allah, aku bersyukur atas apa pun yang Engkau tetapkan, dan bila dalam menjalani ketetapan itu aku kurang sabar, kurang adab, atau tergelincir dosa—ampunilah aku.”

Dengan begitu, dzikir ini membuat hati tidak sombong ketika lapang, dan tidak putus asa ketika sempit. Ia menuntun kita kembali ke pusatnya: Allah Ta’ala.

Kapan Dibaca? Ini Waktu-Waktu yang Dianjurkan

Karena sifatnya umum dan maknanya luas, bacaan ini boleh dibaca kapan saja. Namun, ada beberapa momen yang biasanya paling terasa manfaatnya:

  • Saat mendapat kabar baik (rezeki, kelulusan, kabar keluarga, urusan dimudahkan) sebagai bentuk syukur dan penjagaan hati dari ujub.
  • Saat diuji keadaan sulit (sakit, kehilangan, masalah ekonomi, konflik) agar hati tetap memuji Allah dan tidak larut dalam keluh kesah.
  • Setelah menyadari kesalahan (ucapan yang menyakiti, lalai ibadah, emosi berlebihan), sebagai pintu taubat yang cepat.
  • Setelah bangun tidur atau memulai hari, agar langkah diawali dengan syukur dan kerendahan hati.
  • Setelah selesai beraktivitas (bekerja, belajar, perjalanan), sebagai penutup yang menenangkan: bersyukur atas yang berhasil dan memohon ampun atas yang kurang.
  • Di masa-masa tertentu bagi muslimah (misalnya saat awal haid), ketika sebagian ibadah ditangguhkan, dzikir dan doa tetap bisa menjadi penguat hati.

Intinya, bacaan ini adalah “dzikir penyeimbang”—menyatukan syukur dan istighfar sekaligus.

Keutamaan dan Manfaat yang Bisa Dirasakan

Walau tidak perlu memaksakan angka tertentu, banyak orang merasakan dampak baik ketika menjadikannya wirid ringan. Di antaranya:

  1. Menenangkan hati karena kita mengembalikan urusan kepada Allah dalam kondisi apa pun.
  2. Menguatkan rasa syukur sehingga nikmat terasa cukup, dan hidup tidak mudah mengeluh.
  3. Membiasakan taubat sebab lisan terlatih memohon ampun, bukan membenarkan kesalahan.
  4. Menjaga adab saat diuji agar tidak terpeleset pada ucapan buruk atau prasangka yang merugikan diri sendiri.

Adab Membaca Dzikir Ini

Agar dzikir lebih membekas, lakukan dengan adab sederhana berikut:

  • Hadirkan makna meski hanya beberapa detik: “Ya Allah, apa pun keadaanku, aku tetap memuji-Mu.”
  • Ucapkan dengan pelan dan tenang terutama saat hati sedang gelisah.
  • Istiqamah walau sedikit: lebih baik dibaca rutin daripada banyak tapi hanya sesekali.
  • Tutup dengan doa singkat sesuai kebutuhan: mohon kesehatan, dimudahkan urusan, dilapangkan rezeki, atau diberi keteguhan iman.

FAQ Singkat

Apakah bacaan ini boleh dibaca saat haid?

Ya, dzikir dan doa boleh dibaca kapan saja. Bacaan ini bahkan cocok menjadi penguat hati karena mengandung syukur dan istighfar.

Apakah harus dibaca dengan jumlah tertentu?

Tidak wajib. Anda bisa membacanya sesuai kebutuhan—misalnya setelah shalat (bagi yang sedang suci), setelah aktivitas, atau saat hati terasa berat.

Apakah boleh dibaca dalam bahasa Indonesia?

Boleh berdoa dan berdzikir dengan bahasa yang dipahami, terutama ketika memohon kepada Allah. Namun, melafalkan versi Arabnya juga baik sebagai dzikir yang umum diamalkan.

“Alhamdulillah ‘ala kulli halin wa astaghfurullaha min kulli dzanbin” adalah dzikir yang indah untuk menemani hidup sehari-hari. Ia mengajarkan kita untuk tetap memuji Allah dalam setiap keadaan, sekaligus merendahkan diri dengan istighfar atas segala kekurangan. Semoga lisan kita dimudahkan untuk selalu bersyukur dan cepat kembali bertaubat. Aamiin.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga